Search

Content

0 komentar

Review Buku: Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991

Siapa di sini yang sudah nggak sabar buat nonton film Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991 hayoooo? Setelah Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990 sukses merebut perhatian banyak orang dari berbagai kalangan dan usia, sebentar lagi kita bakal lihat kelanjutan kisah cinta Dilan-Milea di bioskop nih. Meski bukunya sendiri terbit di tahun 2015, kali ini aku bakal mengulas kembali, siapa tau masih ada yang belum baca atau mau mengingat-ingat lagi hehe.


Pidi Baiq, sang penulis memang jago banget soal urusan meramu kata-kata sampai bikin para pembaca terbawa perasaan atau baper. Apalagi di bukunya, Pidi menulis dari sudut pandang seorang wanita yang tak lain adalah Milea. Untuk latar belakang tempatnya pun masih banyak bercerita di Bandung, dimana kalau baca buku ini jadi pengin punya mesin waktu terus pergi ke Bandung di tahun 1990-an. Bandung yang kata Dilan masih sepi dan adem banget.

Jika di buku pertama kita dibawa melihat kisah Dilan-Milea saat proses PDKT sampai jadian dimana Dilan banyak mengeluarkan gombalan maut yang receh tapi tetap bikin sayang hahaha. Tenang, di buku kedua ini juga masih ada kok, tapi secara keseluruhan ceritanya lebih menitikberatkan tentang konflik yang terjadi di antara Dilan-Milea yang bikin pembaca jadi galau dan nyesek pokoknya. Dalam buku ini, karakter Milea semakin posesif dan khawatir dengan Dilan, tau sendiri kan bagaimana Milea nggak suka banget sama geng motornya Dilan yang sering tawuran itu, apalagi Dilan seorang Panglima Tempur. Benar saja dong, ada masalah terjadi pada geng motor Dilan dan tentunya berpengaruh besar pada kehidupan percintaan Dilan-Milea.

Parasnya Milea yang cantik juga membuat banyak pria berusaha mendekati Milea, sebut saja Kang Adi, guru les Milea yang belum nyerah juga mengeluarkan modus-modus basinya. Selain itu, ada juga kehadiran Yugo, sepupu Milea yang memiliki paras tampan karena blasteran Belgia. Sayangnya, kelakuannya bikin geram sampai-sampai melakukan hal kelewat batas terhadap Milea. Oh iya, ada juga pak Dedi, guru Milea yang turut ngemodusin Milea dengan cara-cara yang bikin ilfeel hahaha.

Melihat bagaimana kisah Dilan-Milea di buku pertaman yang  sweet banget, ternyata ending cerita di buku kedua ini bikin saya sedikit kesal dan gak terima. Sampai bikin bertanya-tanya seperti, "lho kok gini? kenapa gak gitu? duh, ya ampun". Jadi bikin nggak sabar juga nih buat nonton filmnya. Semoga sesuai ekspektasi ya!

"Tujuan pacaran adalah untuk putus, bisa karena menikah, bisa karena berpisah." - Pidi Baiq (1972-2098)

PS. Waktu buku Dilan ini ditandatangani oleh Ayah Pidi Baiq, ternyata dia juga melakukan beberapa revisi dengan mencoret beberapa kata. Sudah seperti konsultasi dengan dosen pembimbing skripsi saja hahaha.

      
Baca selengkapnya »

A's

TODAY

Favorite Blogger