25 Februari adalah salah satu hari yang paling menegangkan sekaligus membahagiakan bagi saya. Kenapa? Karena hari itu merupakan hari penentuan bagi saya untuk lulus atau tidak menjadi sarjana ilmu komunikasi setelah 4 tahun lebih menuntut ilmu. Hasilnya? Iya, saya lulus. Akhirnya. Rasanya? Senang bukan main. Pertanyaan "kapan lulus?" yang memborbardir saya satu tahun belakangan ini akhirnya terjawab juga. Walaupun melesat jauh dari target sebelumnya, tapi yaudahlah yah.
Mengerjakan skripsi bukanlah satu hal yang mudah. Percayalah. Saya butuh waktu sekitar 11 bulan untuk menyelesaikannya. Kenapa begitu lama? karena skripsi bukan hanya tentang kita seorang, tapi juga ada dua orang dosen pembimbing yang ikut serta membantu memberikan saran dimana hal inilah yang kadang membuat bingung harus mengikuti yang mana. Satu semester pertama saya mengontrak skripsi hanya stuck di bab 1 sampai 3 dengan permasalahan yaitu: teori. Entah berapa banyak saya mengganti teori, judul bahkan masalah penelitian. Barulah di semester berikutnya saya mulai berjalan maju dimana saya bisa melaksanakan sidang outline atau presentasi hasil bab 1 sampai 3 yang berarti satu langkah lebih maju, tapi ternyata tetap saja teori menjadi masalah dan harus diganti. Namun setelah outline saya mendapatkan teori yang sekiranya pas dan akan saya gunakan hingga akhir.
Di ujung semester kedua saya mengontrak skrispi, saya sudah memasuki bab 4. Namun sedihnya, saya harus membayar SPP lagi di semester berikutnya dan mengontrak skripsi lagi. Padahal saya hanya butuh waktu beberapa minggu lagi untuk menyelesaikan skrispi. Hal ini terbukti dari jarak saya bayar SPP sampai daftar sidang tidaklah butuh waktu yang lama. Nyesek? Banget. Tapi ya sudahlah mungkin rezekinya kampus saya hoho.
Hal yang saya senangi dalam proses skripsi ini adalah saya jadi lebih mandiri. Bagaimana tidak, teman-teman kelas saya kebanyakan lebih santai dan mogok mengerjakan skripsi. Itu membuat saya pada awalnya kayak anak hilang haha. Tapi ternyata dari situ saya bisa mengenal teman-teman baru yang ternyata memiliki dosen pembimbing yang sama. Dari situ kita jadi lebih dekat karena bisa saling sharing tentang suka duka skripsi ini dan saling menyemangati satu sama lain.
Saya mengucapkan terima kasih banyak tentunya kepada kedua orang tua saya yang sudah bawelin saya terus haha. Love you both, Mah, Pak. Juga teman-teman kelas dan bimbingan. Semangat terus buat kalian yang masih berjuang. Don't you dare to give up. The future is getting closer. *cheers*
| Akhirnya kesampaian juga foto di sini hehe |
| Teman-teman kelas dan seperjuangan. (Dari kiri atas ke kanan atas: Dwi-Fahmi-Me-Monic-Ovan-Dzikri. Kiri bawah ke kanan bawah: Alzasya-Teguh-Iqbal) |
| Diajak foto bareng taunya digotong dan ujung-ujungnya jatuh haha |
![]() |
| Teman-teman bimbingan. (Kiri ke kanan: Ibos-Me-Isti-Lena) |







